Jumat, 31 Januari 2014

Perpustakaan pribadinya cara untuk berbagi ilmu

0 komentar
KABAR PROBOLINGGO - (2/12) Perpustakaan bagi Ihya Aminudin adalah caranya untuk berbagi ilmu.Menyebarkan kegemaran membaca melalui perpustakaan pribadinya menjadi cita-cita. Menurutnya, semangat ini ia dapati dari ayah dan kakeknya
TERLAHIR dari keluarga gemar membaca, Ihya Aminudin tak asing dengan buku sejak usia belia. Karenanya, ketika koleksi bukunya sudah mencapai ratusan, ia berinisiatif membuka perpustakaan agar lebih banyak orang mendapat manfaat dari bukunya.  

Perpustakaan yang dinamai Sri Tanjung ini berdiri sejak 1992. Letaknya tak jauh dari Kantor Kelura,han Sumbertaman, Kecamatan Wonoasih Kota Probolinggo. Menurut Ihya Aminudin (35), awal berdirinya perpustakaan ini bermula dari menumpuknya koleksi buku yang dimiliki keluarganya. Selain Ihya, bapak dan kakeknya juga mempunyai hobi yang sama, yakni membaca. Tak heran koleksi pribadi itu jumlahnya mencapai ratusan.

"Karena banyak, beberapa orang mulai tertarik untuk meminjam buku. Lama-kelamaan koleksi pribadi itu dipinjamkan ke orang umum," jelasnya. Karena semakin banyak orang umum yang melakukan pinjaman buku, Ihya kemudian resmi mendirikan perpustakaan di ruangan yang hanya berukuran 7x4 meter. Awalnya perpustakaan ini hanya mempunyai anggota para ustadz yang berjumlah sekitar 20-30 puluhan. Sebab koleksi yang dimiliki Ihya hanya buku agama dan kitab yang hanya bisa dibaca lulusan pondok.

"Sejak awal kami tidak memberikan batas waktu. Hanya mencatat di lembaran kertas kosong kemudian ditempel di rak buku Tapi kalau ada orang lain yang ingin pinjam, dan bukunya tidak ada, kami sendiri yang mengambilnya ke anggota," jelasnya.

Mengenai koleksi buku yang ada saat iu, ia mengaku mempunyai 2 almari yang semuanya koleksi pribadi dan juga koleksi orang tuanya, Ia mengaku koleksi itu didapat saat dirinya mondok di Nurul Jadid. "Saat saya masih di pondok, saya mencari sumbangan buku dari luar negeri, dan uang saku, saya belikan buku" jelasnya.

Soal dana pengoperasian perpustakaan, ia mengaku selama puluhan tahun memakai uang pribadi, baik untuk penambahan buku, dan juga penambahan fasil-tas lain. Ia mengaku hal itu dilakukan hanya untuk memberi kesempatan pada orang lain agar gemar membaca.

"Kami disini bukan mencari bayaran, malah kami yang mengeluarkan biaya. Tapi dengan membuka seperti ini, masyarakat yang berada di sekitar perpustakaan bisa gemar membaca. Dan dengan membaca, diharapkan masyarakat bisa tambah cerdas," ucapnya.

Ia mengaku, selama men-jalankan perpustakaan 19 tahun, ia tak menjalankan manajemen dengan benar. Ia juga hanya menambah koleksi buku-buku agama. Namun selama dua tahun terakhir, perpustakaannya tidak lagi hanya memiliki koleksi buku agama maupun kitab kuning. Sebab selama dua tahun terakhir ia mendapatkan hibah dari beberapa orang dan instansi pemerintah. Sejak itulah Ihya mengaku mulai mengatur perpustakaannya dengan lebih teliti. Termasuk menginventarisir biiku, anggota dan ruangan perpustakaan itu sendiri.

Dari keseluruhan koleksi, saat ini yang terbanyak buku untuk kalangan anak-anak kemudian buku untuk pelajar. "Tapi yang koleksi pribadi kami, seperti kitab-kitab kuning sementara kami amankan di rumah. Karena raknya tidak cukup," ungkapnya.

Dengan adanya penambahan buku ini, anggota selain kalangan ustadz sekarang bertambah. Seperti dari kalangan pelajar dan para ibu rumah tangga. Bahkan anggota saat ini ada juga dari kalangan tukang becak. "Salah satu anggota kami ada yang berhasil dengan membaca buku. Awalnya yang tidak bisa membuat jamu, sekarang bisa mem-produksi sinom. Itu semua dari membaca di perpustakaan kami Mas,'" tuturnya

Ihya mengaku, senang mempunyai anggota yang berhasil. Akan tetapi saat ada pengunjung yang balik karena tidak mendapatkan buku yang diinginkan, ia mengaku sangat kecewa. "Saya merasa kasihan Mas. Apalagi pengunjung yang balik gara-gara tak ada buku," ungkapnya.

Ia berharap, tahun-tahun mendatang bisa membuka ruang perpustakaan baru. Sebab saat ini, perpustakaan miliknya hanya ruangan kecil. Sehingga saat di pun-cak kunjungan beberapa pengunjung terpaksa mem¬baca di pinggir jalan atau di salah satu teras warga. "Tapi masih menunggu dana Mas," tutupnya. (rul/ama)

0 komentar:

Posting Komentar